Gambar 17 Rabi’ul Awwal — Tiga Tahun dalam Kepungan

Saat Nabi Muhammad saw., masih di Makkah, Quraisy telah mencoba banyak cara. Mereka menghina, mengancam, menyiksa, memperdagangkan rasa takut, bahkan memaksa sebagian kaum Muslimin meninggalkan tanah kelahirannya menuju Habasyah. Tetapi dakwah tidak juga berhenti. Muhammad saw. tetap berbicara tentang tauhid, sementara orang-orang yang beriman kepadanya semakin bertambah. Barangkali karena itu Quraisy mulai memahami satu hal: selama Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib masih memberikan perlindungan kepada Muhammad, tekanan kepada dirinya tidak akan mudah mencapai tujuan.

Dalam hidup, ada penderitaan yang datang karena manusia memilih jalan yang keliru. Ada pula penderitaan lain yang justru datang karena seseorang memilih untuk tetap berada di jalan yang diyakininya benar. Untuk pilihan yang kedua, tidak selalu ada yang memahami, tidak selalu ada yang membela, bahkan kadang tidak ada tanda bahwa keteguhan dan kesabaran itu akan segera berbuah. Demikianlah yang dialami Rasulullah saw. dan orang-orang yang tetap berdiri di sekelilingnya di Makkah.

Mereka tinggal di sebuah lembah yang dikenal sebagai Syi‘b Abi Thalib. Tempat ini, adalah ruang panjang tempat kelaparan, kecemasan, dan kesetiaan bertemu. Tiga tahun bukan sebentar. Tiga tahun cukup lama untuk membuat manusia bertanya apakah perjuangan ini masih layak diteruskan, cukup panjang untuk membuat seseorang menghitung kembali apa yang telah dikorbankannya, dan cukup berat untuk memperlihatkan siapa yang tinggal ketika tidak ada lagi keuntungan yang dapat diharapkan.

Di lembah itu, kehidupan menjadi sangat sederhana, bahkan mungkin lebih tepat disebut menyempit. Makanan sulit diperoleh, perdagangan terputus, dan kebutuhan sehari-hari tidak mudah dipenuhi. Dalam berbagai riwayat disebutkan bagaimana penderitaan itu sampai dirasakan oleh anak-anak. Tangisan mereka menjadi bagian dari malam-malam panjang. Tetapi sejarah selalu menyimpan paradoks. Ketika ruang kehidupan mereka dipersempit, sesuatu di dalam diri mereka justru menjadi lebih luas. Mereka mungkin kehilangan banyak hal yang bersifat duniawi, tetapi menemukan bentuk persaudaraan yang tidak mudah ditemukan dalam keadaan lapang.

Sebab manusia ternyata baru benar-benar mengetahui arti persaudaraan ketika persaudaraan itu menuntut pengorbanan. Ketika makanan cukup, berbagi adalah perkara yang mudah. Ketika harta berlimpah, memberi tidak terlalu menyakitkan. Tetapi ketika persediaan hampir habis dan seseorang masih menyisihkan sebagian untuk saudaranya, di situlah sebuah persaudaraan memperoleh maknanya. Syi‘b Abi Thalib bukan hanya tempat kaum Muslimin mengalami tekanan; ia menjadi semacam ruang pendidikan, tempat iman tidak lagi berhenti sebagai pengakuan, melainkan diuji oleh kenyataan.

Quraish menetapkan kesepakatan untuk memutus hubungan dengan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. Tidak boleh ada perkawinan dengan mereka, tidak boleh melakukan jual beli, tidak boleh memberikan bantuan, dan tidak boleh menjalin hubungan sosial sebagaimana biasa. Ini bukan sekadar ancaman kepada seorang Muhammad. Ini adalah usaha untuk membuat seluruh lingkungan yang melindunginya merasakan harga yang harus dibayar karena tetap bersama dia.

Sirah bukan semata-mata pertanyaan tentang apa yang terjadi, melainkan juga tentang sunnatullah yang bekerja di baliknya. Mengapa Allah membiarkan Rasul-Nya dan para sahabat mengalami penderitaan sedemikian berat? Mengapa dakwah yang benar tidak selalu diberi jalan yang mudah? Mengapa pertolongan tidak datang segera? Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena di sanalah kita mulai membaca sirah sebagai pemahaman yang mencari makna, hukum kehidupan, dan pendidikan ilahiah di balik peristiwa.

Islam tidak sedang membentuk manusia yang hanya mampu berdiri ketika keadaan mendukung. Rasulullah saw. sedang membentuk manusia yang dapat tetap tegak ketika dunia di sekelilingnya kehilangan keramahan. Iman yang hanya hidup dalam kenyamanan belum banyak diuji. Tetapi iman yang tetap menyala ketika makanan berkurang, perlindungan melemah, dan masa depan tampak gelap, adalah iman yang telah menemukan akar.

Menarik, bahwa boikot itu tidak membuat semua orang Quraisy menjadi satu suara. Ada di antara mereka yang merasa bahwa apa yang dilakukan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib telah melampaui batas. Beberapa tokoh kemudian berusaha mengakhiri kesepakatan tersebut. Di sini sejarah kembali mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan: manusia tidak selalu dapat dibagi secara sederhana menjadi dua warna. Di dalam kelompok yang menentang, selalu mungkin ada hati yang masih menyimpan kegelisahan terhadap kezaliman. Dan keberanian moral kadang justru dimulai ketika seseorang berani mengatakan tidak kepada kesalahan kelompoknya sendiri.

Setelah sekitar tiga tahun, pemboikotan itu berakhir. Mereka keluar dari lembah, tetapi barangkali tidak keluar sebagai manusia yang sama. Ada penderitaan yang meninggalkan bekas pada tubuh, tetapi ada pula penderitaan yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Mereka telah belajar bahwa dakwah tidak dibangun oleh kenyamanan, bahwa persaudaraan bukan slogan, dan bahwa kesetiaan baru tampak ketika tidak ada keuntungan yang menyertainya.

Kita sering berbicara tentang Nabi sebagai manusia yang kuat. Tetapi kekuatan tidak berarti tidak merasakan kehilangan. Rasulullah saw. juga memiliki hati yang dapat bersedih. Ia juga mengenal sepi. Ia juga kehilangan orang-orang yang dicintainya. Justru di situlah kemanusiaan beliau terasa begitu dekat: kenabian tidak menghapus air mata. Wahyu tidak menjadikan hati terbuat dari batu. Seorang Rasul pun dapat berduka, tetapi kedukaan tidak membuatnya berhenti menjalankan amanah.

Mungkin kita tidak selalu mampu mengubah keadaan. Kita tidak selalu dapat mencegah kehilangan. Kita bahkan kadang tidak mengerti mengapa Allah memilihkan jalan yang begitu berat bagi kita. Tetapi sirah mengajarkan satu hal yang sederhana dan dalam: yang paling menentukan bukan hanya apa yang terjadi kepada kita, melainkan bagaimana kita membawa hati kita melewati apa yang terjadi. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.