Gambar 16 Rabi’ul Awwal —Madinah Dikepung

Peristiwa itu terjadi pada tahun kelima Hijriah. Para pemuka Quraisy bersama sejumlah kabilah Arab berhasil membentuk koalisi besar yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai al-Ahzab. Mereka datang dengan keyakinan bahwa jumlah dan kekuatan mereka akan cukup untuk menghancurkan Madinah. Setelah Badar gagal mencapai tujuan mereka dan Uhud belum memberikan kemenangan yang pasti, mereka melihat pengepungan sebagai kesempatan terakhir untuk menyelesaikan persoalan dengan kaum Muslimin. Bagi mereka, Madinah harus ditaklukkan dan kekuatan yang dibangun Rasulullah saw., harus dihentikan sebelum berkembang menjadi kekuatan yang lebih besar.

Rasulullah saw., memahami besarnya ancaman itu dan tidak memilih untuk menunggu musuh datang lalu menghadapi mereka dengan cara yang sama seperti peperangan sebelumnya. Dalam musyawarah bersama para sahabat, muncul gagasan dari Salman al-Farisi untuk menggali parit pada sisi Madinah yang terbuka terhadap serangan. Bagi masyarakat Arab ketika itu, strategi semacam ini merupakan sesuatu yang tidak lazim, tetapi Rasulullah saw., menerimanya karena tujuan seorang pemimpin bukan mempertahankan kebiasaan, melainkan menemukan cara terbaik untuk melindungi umat. Di sini kita menemukan salah satu prinsip penting dalam pembacaan sirah ala el-Bouthi,  mukjizat dan pertolongan Allah tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan hukum-hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan dalam kehidupan.

Maka parit itu digali dengan tangan-tangan yang sederhana, dalam keadaan kaum Muslimin mengalami kesulitan makanan dan kelelahan yang berat. Rasulullah saw., tidak hanya menyuruh para sahabat bekerja, tetapi ikut mengangkat tanah dan merasakan dinginnya Madinah serta lapar yang mereka alami. Kepemimpinan beliau tidak dibangun dari jarak, sebab ketika umat bekerja keras, pemimpinnya berada di antara mereka; ketika umat lapar, beliau merasakan lapar yang sama; dan ketika mereka takut, beliau hadir sebagai sumber keteguhan.

Ketika pasukan Ahzab tiba, mereka mendapati sesuatu yang tidak mereka perkirakan. Di hadapan mereka terdapat parit yang memutus jalan menuju Madinah dan membuat keunggulan jumlah pasukan mereka kehilangan sebagian besar manfaatnya. Kuda-kuda mereka tidak dapat dengan mudah melewati penghalang itu, sementara kaum Muslimin bertahan dari sisi dalam. Perang yang semula dibayangkan Quraisy sebagai serangan cepat berubah menjadi pengepungan yang melelahkan. Hari-hari berlalu, dan semakin lama pengepungan berlangsung, semakin berat pula tekanan yang harus ditanggung kaum Muslimin.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan itu dengan bahasa yang sangat kuat. Ketika pasukan datang dari atas dan dari bawah, ketika mata terbelalak dan hati seakan naik ke tenggorokan, ketika sebagian manusia mulai menyangka bahwa pertolongan Allah tidak akan datang, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kekuatan tubuh mereka, tetapi juga cara mereka memandang Allah. Inilah yang membuat Khandaq menjadi sangat penting dalam pembacaan sirah el-Bouthi. Setiap peristiwa dalam kehidupan Rasulullah saw., memiliki dimensi pendidikan bagi umat, dan ujian tidak selalu diberikan untuk menunjukkan siapa yang kuat secara fisik, tetapi untuk memperlihatkan siapa yang tetap memiliki keyakinan ketika sebab-sebab lahiriah tidak lagi memberikan rasa aman.

Kemudian datanglah pertolongan yang tidak dapat dihitung oleh manusia. Allah mengirimkan angin yang sangat kencang kepada pasukan Ahzab. Kemah-kemah mereka diterbangkan, api-api mereka padam, peralatan mereka menjadi kacau dan suasana yang sebelumnya dipenuhi keyakinan berubah menjadi ketakutan. Koalisi besar yang datang dengan ambisi untuk menghancurkan Madinah akhirnya tidak mampu mencapai tujuan mereka dan memilih meninggalkan tempat itu. Al-Qur’an kemudian mengingatkan kaum Muslimin bahwa Allah-lah yang mengusir orang-orang kafir itu dalam keadaan mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun, sementara kaum Muslimin tidak perlu melakukan pertempuran besar untuk mengalahkan mereka.

Sirah tidak dimaksudkan sekadar untuk membuat kita mengetahui bahwa pernah ada parit yang digali di Madinah atau bahwa pasukan Ahzab pernah mengepung kaum Muslimin. Sirah harus membawa kita menemukan hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Rasulullah saw., adalah manusia yang paling bertawakal, tetapi beliau tetap menggali parit. Beliau yakin kepada pertolongan Allah, tetapi tetap bermusyawarah, menyusun strategi, mengirim pengintai dan mengantisipasi berbagai kemungkinan. Dengan demikian, Khandaq mengajarkan bahwa tawakal yang benar tidak pernah berarti meninggalkan sebab, sebagaimana mengambil sebab juga tidak boleh membuat manusia lupa kepada Musabbib al-Asbab, Zat yang berada di balik seluruh sebab.

Ada pelajaran lain. Beliau mengubah keadaan yang tampaknya menguntungkan musuh menjadi keadaan yang dapat dikendalikan. Jumlah pasukan Ahzab memang jauh lebih besar, tetapi parit membuat jumlah itu tidak mudah digunakan. Inilah kecerdasan strategis yang sering kali tidak terlihat ketika sirah hanya dibaca sebagai cerita heroik. Kemenangan tidak selalu diperoleh dengan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada lawan. Terkadang kemenangan lahir dari kemampuan mengubah medan sehingga kekuatan lawan tidak dapat digunakan secara maksimal.

Khandaq tidak berakhir dengan kemenangan dramatis sebagaimana Badar. Tidak ada kisah tentang ribuan pasukan yang tumbang di medan terbuka. Bahkan dapat dikatakan bahwa kaum Muslimin memenangkan perang itu justru karena pertempuran besar tidak pernah terjadi. Pasukan Ahzab datang dengan satu tujuan untuk menghancurkan Madinah, tetapi mereka pulang tanpa mencapai tujuan tersebut. Dalam ukuran strategi, itulah kemenangan yang sesungguhnya, musuh gagal mencapai apa yang mereka inginkan, sementara Madinah tetap berdiri dan kekuatan kaum Muslimin justru semakin kokoh.

Pesan terdalam Khandaq bukanlah tentang parit yang digali para sahabat, melainkan tentang cara seorang mukmin berdiri ketika dirinya dikepung oleh keadaan. Kita mungkin tidak selalu mampu menentukan besar kecilnya masalah yang datang, tetapi kita masih dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya. Kita dapat bermusyawarah ketika bingung, berpikir ketika terdesak, bekerja ketika lelah, bersabar ketika takut dan tetap percaya kepada Allah ketika seluruh perhitungan manusia terasa buntu. Sebab seperti yang diperlihatkan Khandaq, pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk yang kita duga. Kadang-kadang manusia hanya diminta menggali parit dengan segenap kemampuannya, lalu Allah mengirimkan angin dari arah yang tidak pernah ia perkirakan. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.