Gambar 15 Rabi’ul Awwal — Perang Uhud, Rasul Saw,. Terluka dan Berdarah

Jika Badar mengajarkan kepada kita bahwa jumlah yang sedikit tidak selalu berarti kalah, maka Uhud mengajarkan sesuatu yang lebih getir,  “orang-orang yang berada di jalan Allah pun dapat terluka, kehilangan, bahkan mengalami kekalahan ketika mereka lengah terhadap amanah.”

Uhud terjadi pada tahun ketiga Hijriah, hanya setahun setelah Badar. Kekalahan di Badar meninggalkan guncangan besar bagi Quraisy. Kehormatan yang selama ini mereka banggakan tercoreng, dan posisi mereka di tengah kabilah-kabilah Arab tidak lagi sekuat sebelumnya. Kekalahan itu kemudian berubah menjadi tekad untuk membalas dan memulihkan kembali wibawa yang mereka rasa telah runtuh. Di bawah kepemimpinan Abu Sufyan, Quraisy mulai menghimpun kekuatan. Mereka menyiapkan pasukan besar, sekitar tiga ribu orang, lalu bergerak menuju Madinah.

Rasulullah saw. mengetahui kedatangan mereka. Semula beliau cenderung bertahan di Madinah, tetapi sebagian sahabat menghendaki keluar menghadapi musuh. Setelah bermusyawarah, Rasulullah saw. mengenakan perlengkapan perang dan berangkat bersama sekitar seribu orang. Di tengah perjalanan menuju medan perang, tepatnya di tempat bernama Syathiful, Abdullah bin Ubay bin Salul bersama 300 orang pengikutnya membelot dan mundur kembali ke Madinah. Tinggallah sekitar tujuh ratus orang menghadapi pasukan Quraisy yang jauh lebih besar.

Di kaki Uhud, Rasulullah saw. menyusun pasukannya. Lima puluh pemanah ditempatkan di atas bukit kecil yang kemudian dikenal sebagai Jabal Rummaah (pemanah). Pesannya sangat jelas: jangan meninggalkan posisi, apa pun yang terjadi. Mereka diminta menjaga agar pasukan berkuda Quraisy tidak menyerang dari belakang. Lalu Pertempuran pun pecah.

Pada awalnya, kaum Muslimin berhasil mendesak Quraisy. Barisan mereka mulai kacau. Tetapi ketika sebagian pemanah melihat pasukan Quraisy mundur dan harta benda mulai ditinggalkan, mereka mengira peperangan telah selesai. Sebagian besar turun dari posisi mereka, meskipun Abdullah bin Jubair, pemimpin mereka, telah mengingatkan agar tetap bertahan. Di situlah arah pertempuran berubah.

Khalid bin al-Walid, yang ketika itu masih berada di pihak Quraisy, melihat celah yang terbuka. Pasukan berkuda Quraisy bergerak memutar dan menyerang dari belakang. Dalam sekejap, keadaan berubah. Barisan kaum Muslimin kacau. Dan di tengah kekacauan itu, Rasulullah saw. menjadi sasaran serangan. Bayangkan saat itu. Manusia yang paling dicintai Allah berada di tengah kepungan.

Musuh bergerak dari berbagai arah. Batu dilemparkan. Pedang berkelebat. Suara teriakan memenuhi medan Uhud. Para sahabat berusaha melindungi Rasulullah saw., tetapi serangan begitu deras. Wajah beliau terluka. Darah mengalir. Sebuah pecahan rantai dari penutup kepala beliau menancap pada wajahnya. Gigi depan beliau patah. Beliau mengalami luka yang sangat berat. Dalam riwayat yang masyhur, beliau bahkan terjatuh ke dalam sebuah lubang yang dibuat oleh musuh. Di saat itu beredar kabar: Muhammad telah terbunuh. Kabar itu mengguncangkan kaum Muslimin.

Sebagian sahabat kehilangan semangat. Sebagian lainnya terus mencari Rasulullah saw. sampai akhirnya mereka menemukan beliau masih hidup. Betapa berat membayangkan keadaan itu. Seorang Rasul yang selama ini mengajarkan kasih sayang kepada umatnya kini wajahnya berlumuran darah. Manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam sedang diserang oleh orang-orang yang tidak menghendaki risalahnya.

Tetapi justru di sinilah Uhud menjadi sangat manusiawi. Rasulullah saw. bukan tokoh yang hidup tanpa luka. Beliau merasakan sakit. Beliau berdarah. Beliau kehilangan para sahabat. Hamzah, paman beliau yang sangat dicintai, gugur di medan Uhud. Mus'ab bin Umair, pembawa panji Rasulullah saw., juga syahid. Banyak sahabat terbaik gugur hari itu. Dan ketika semua itu terjadi, Rasulullah saw. tidak berubah menjadi manusia yang dikuasai dendam.

Mengapa Allah membiarkan Rasul-Nya terluka? Mengapa kemenangan tidak diberikan sebagaimana di Badar? Mengapa para sahabat yang mencintai Nabi harus mengalami kekalahan dan kehilangan?

El-Bouthi mengajak kita melihat bahwa kehidupan Nabi saw. sendiri merupakan pendidikan bagi umat. Seandainya kaum Muslimin selalu menang secara lahiriah, manusia mungkin akan mengira bahwa pertolongan Allah datang tanpa syarat, tanpa disiplin, tanpa ketaatan terhadap sunnatullah. Uhud menunjukkan sebaliknya. Pertolongan Allah tidak membatalkan hukum sebab-akibat.

Kemenangan tidak cukup hanya dengan iman. Ia menuntut ketaatan, disiplin, kesabaran, dan kepatuhan terhadap pemimpin. Kesalahan kecil di sebuah bukit dapat mengubah arah sebuah pertempuran. Uhud juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting,  kekalahan tidak selalu berarti Allah meninggalkan hamba-Nya. Allah justru mendidik mereka melalui kekalahan. Al-Qur'an kemudian mengingatkan: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 139)

Dan mungkin inilah salah satu rahasia Uhud. Badar mengajarkan kita bagaimana menerima kemenangan. Uhud mengajarkan kita bagaimana menerima keterpurukan. Sebab manusia akan diuji bukan hanya ketika ia mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi juga ketika yang terjadi berbeda dari yang diharapkan. Rasulullah saw. Terluka dan berdarah, tetapi risalahnya tidak. Para sahabat gugur, tetapi iman mereka tidak gugur. Pasukan Muslimin mundur, tetapi perjalanan Islam tidak berhenti. Bahkan dari darah yang mengalir di lereng Uhud, umat belajar sesuatu yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui kemenangan: bahwa mencintai Allah bukan berarti hidup tanpa penderitaan; dan mengikuti Rasulullah saw. bukan berarti perjalanan selalu dipenuhi kemenangan. Kadang Allah mendidik kita melalui keberhasilan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui sesuatu yang membuat kita menangis. Dan di Uhud, kita seakan melihat Rasulullah saw. dalam keadaan yang paling menggetarkan: berdarah, terluka, kehilangan orang-orang yang dicintainya, tetapi tetap menjadi Rasul yang membawa rahmat.

Mungkin karena itu, ketika kita mengenang Uhud, jangan hanya membayangkan sebuah perang. Bayangkanlah Rasulullah saw. Di antara debu dan darah. Di tengah teriakan musuh. Dengan wajah yang terluka. Namun tetap berdiri. Tetap bertahan. Tetap membawa amanah Allah. Dan di situlah kerinduan kepada beliau terasa semakin dalam.

Ya Rasulullah, kami mengenalmu bukan hanya ketika engkau menang di Badar, tetapi juga ketika wajahmu berdarah di Uhud. Sebab dari luka itu kami belajar: seorang mukmin tidak diukur hanya dari bagaimana ia berdiri ketika menang, tetapi dari bagaimana ia tetap berdiri ketika seluruh keadaan memaksanya untuk menyerah. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***

Salman Ahmad