“Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok kecil dari orang-orang Islam ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.”
Doa itu terucap pada sebuah malam yang sunyi di Badar. Rasulullah saw. berdiri menghadap Rabb-nya, sementara di luar sana tiga ratus lebih manusia sedang menunggu pagi. Mereka tahu apa yang akan mereka hadapi. Di hadapan mereka ada pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar, persenjataan yang lebih lengkap, kuda dan unta yang lebih banyak, serta kesiapan untuk perang.
Belum genap dua tahun sejak mereka meninggalkan Makkah. Sebelumnya mereka adalah orang-orang yang terusir dari rumah sendiri. Ada yang meninggalkan harta, keluarga, pekerjaan, dan tanah kelahiran demi mempertahankan iman. Kini, di lembah Badar, mereka berhadapan kembali dengan orang-orang yang dahulu mengusir mereka.
Sesungguhnya mereka tidak sedang merencanakan perang sebesar itu. Ketika Rasulullah saw. mengetahui kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan sedang dalam perjalanan pulang dari Syam, kaum Muslimin bergerak dari Madinah. Mereka bermaksud menghadang kafilah sebagai bagian dari tekanan terhadap Quraisy yang selama ini memerangi mereka dan merampas harta kaum Muslimin. Tetapi keadaan berubah. Abu Sufyan berhasil menyelamatkan kafilahnya. Quraisy kemudian mengirim pasukan besar dari Makkah. Sekitar seribu orang bergerak menuju Badar. Yang semula mungkin hanya sebuah upaya menghadang kafilah berubah menjadi pertemuan dua kekuatan.
Tiga ratus lebih melawan hampir seribu. Jumlah kuda Nabi saw., dan sahabatnya sangat sedikit. Unta pun harus ditunggangi secara bergantian. Tidak semua memiliki senjata yang memadai. Tidak semua datang sebagai prajurit yang terlatih. Mereka adalah manusia biasa. Mereka bisa lapar, takut, lelah, terluka, dan mati. Karena itu, jika kemenangan hanya ditentukan oleh jumlah, perlengkapan, dan kekuatan yang tampak oleh mata, Badar sebenarnya telah selesai sebelum dimulai.
Tetapi malam sebelum pertempuran, Rasulullah saw. tidak sibuk menghitung berapa banyak pedang yang mereka miliki. Beliau mengangkat kedua tangan. Memohon. Mengadu. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Di situlah mungkin letak perbedaan antara orang yang hanya memiliki kekuatan dan orang yang memiliki tempat bersandar. Nabi saw. tahu bahwa secara manusiawi mereka kecil. Tetapi beliau juga tahu bahwa kecil di hadapan manusia tidak berarti kecil di hadapan Allah.
Pagi datang. Pasukan bertemu. Pertempuran dimulai. Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubaidah bin al-Harits dan para sahabat lainnya maju. Mereka bukan manusia-manusia yang tiba-tiba berubah menjadi makhluk yang tidak terkalahkan. Tidak ada tenaga rahasia yang membuat mereka kebal terhadap pedang. Mereka tetap manusia. Ada yang terluka. Ada yang gugur. Tetapi mereka memasuki medan itu dengan sesuatu yang lebih dalam daripada keberanian: keyakinan bahwa hidup dan mati mereka berada dalam genggaman Allah.
Hari itu, sesuatu yang secara hitungan manusia tampak hampir mustahil terjadi. Pasukan Quraisy yang seribuan itu, mengalami kekalahan. Banyak tokoh mereka terbunuh. Abu Jahal, salah seorang pemuka yang begitu keras memusuhi Rasulullah saw., akhirnya menemui ajalnya. Kaum Muslimin memperoleh kemenangan yang kemudian mengubah arah sejarah.
Kita sering hidup dengan ukuran-ukuran yang berbeda. Kita menghitung berapa banyak orang yang mendukung kita. Berapa banyak harta yang kita punya. Siapa yang berada di belakang kita. Seberapa kuat jabatan kita. Seberapa luas jaringan kita. Seberapa banyak orang yang dapat kita panggil ketika sedang menghadapi masalah. Seolah-olah semakin banyak yang berdiri di belakang kita, semakin aman hidup kita. Padahal Badar mengajarkan sesuatu yang sederhana: banyak belum tentu kuat, sedikit belum tentu lemah.
Ada kalanya kita merasa sendirian. Hanya sedikit orang yang memahami kita. Sedikit yang mendukung keputusan kita. Sedikit pula yang bersedia berjalan bersama kita. Di saat seperti itu, mungkin kita terlalu cepat merasa kalah. Padahal pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa banyak orang yang berada di belakang kita, melainkan kepada siapa hati kita bersandar.
Bukankah Rasulullah saw. sendiri pernah mengajarkan bahwa seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepada kita, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan. Dan seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat, mereka tidak akan mampu menimpakannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atas kita. Kalimat itu bukan sekadar penghiburan. Ia adalah cara memandang kehidupan.
Mungkin itulah yang membuat orang-orang Badar berani. Mereka bukan tidak mengenal takut. Mereka hanya tidak membiarkan rasa takut menjadi tuan atas hati mereka. Mereka tahu manusia dapat mengancam, tetapi manusia tidak memiliki kuasa mutlak. Mereka tahu pedang dapat melukai, tetapi hidup dan mati tetap berada di tangan Allah. Mereka tahu jumlah mereka sedikit, tetapi pertolongan Allah tidak pernah dihitung dengan angka.
Maka ketika suatu hari kita berdiri di hadapan “Badar” kita sendiri, ketika persoalan terasa terlalu besar, ketika orang-orang yang berseberangan tampak jauh lebih kuat, ketika kita merasa hanya memiliki sedikit sekali kekuatan, barangkali kita tidak perlu segera bertanya, “Berapa banyak yang ada di pihakku?” Pertanyaan lain yang mungkin lebih menenangkan adalah, “Apakah diriku sedang bersandar kepada-Nya?"
Pada akhirnya, Badar bukanlah kisah tentang tiga ratus melawan seribu. Ia adalah kisah tentang manusia yang menyadari keterbatasannya, lalu menyerahkan keterbatasan itu kepada Allah. Dan kemenangan tidak selalu diberikan kepada yang paling banyak, paling kuat, atau paling lengkap. Kadang kemenangan datang kepada mereka yang, setelah seluruh kekuatan manusia dihitung, strategi diatur dengan baik, lalu kemudian berpegang dan bersandar kepada Allah Swt. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***