Apa yang sedang kita perjuangkan dalam hidup ini? Mungkin kita semua punya jawabannya. Tetapi barangkali kita perlu berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat kembali hal-hal yang selama ini kita pertahankan dengan begitu gigih. Dari sekian banyak perkara yang pernah membuat kita tersinggung, marah, terluka, bertahan, bahkan bermusuhan, benarkah semuanya layak disebut perjuangan?
Bagaimana rasanya jika rumah tempat kita dilahirkan perlahan-lahan tidak lagi terasa sebagai rumah? Jalan yang sejak kecil kita kenal tiba-tiba terasa asing. Tetangga yang dahulu menyapa mulai memalingkan wajah. Orang-orang sekampung yang selama ini hidup bersama kita mulai memandang dengan curiga. Dan pada suatu hari, kita menyadari bahwa tempat yang paling kita kenal justru menjadi tempat yang tidak lagi menghendaki kita. Berat!
Perasaan seperti itu pernah dialami Rasulullah saw., dalam keadaan yang jauh lebih berat. Makkah bukan sekadar sebuah kota bagi beliau. Di sanalah beliau dilahirkan, tumbuh, dikenal sebagai al-Amin, menikah dengan Khadijah r.a., dan menjalani sebagian besar hidupnya. Di sana pula, dari Gua Hira, wahyu pertama turun dan kehidupan beliau berubah selamanya. Makkah adalah tanah kelahiran sekaligus tanah perjuangan. Tetapi setelah Muhammad saw. membawa risalah, kota yang sama perlahan menjadi asing. Muhammad, saw yang dahulu mereka percaya mulai mereka cela. Yang dahulu mereka kenal sebagai al-Amin mulai mereka tuduh sebagai penyihir, pendusta, dan pemecah belah.
Kemudian datanglah masa yang sangat berat. Abu Thalib wafat. Tidak lama kemudian, Khadijah r.a. menyusul. Seakan-akan dua pintu terakhir yang selama ini melindungi kehidupan Nabi ditutup hampir bersamaan. Abu Thalib adalah benteng beliau di tengah kerasnya Makkah. Khadijah adalah keteduhan yang menunggu di rumah ketika dunia di luar terasa begitu kejam. Yang satu melindungi tubuh dan dakwah beliau dari tekanan manusia; yang lain menenangkan hati beliau ketika manusia menolaknya. Keduanya pergi. Makkah menjadi semakin sempit. Tetapi kesedihan tidak membuat langkah Nabi berhenti. Justru ketika kehilangan datang bertubi-tubi, beliau masih memikirkan satu hal: di mana lagi manusia dapat mendengar seruan kepada Allah?
Maka Tha’if menjadi harapan. Barangkali di sana ada hati yang bersedia mendengar. Barangkali Bani Tsaqif akan membuka pintu yang telah ditutup Quraisy. Barangkali dari kota itu dakwah menemukan jalan baru. Nabi saw. pun berangkat. Beliau tidak membawa pasukan, tidak membawa kekuasaan, tidak membawa sesuatu untuk memaksa manusia menerima. Beliau hanya membawa risalah dan harapan. Tetapi harapan itu pecah ketika Tha’if menolaknya. Bukan hanya dengan kata-kata. Beliau diusir, dikejar, dan dilempari batu. Darah mengalir dari kedua kaki beliau. Seorang Nabi yang datang membawa rahmat akhirnya meninggalkan kota itu dengan luka di tubuh dan berdarah.
Lalu tibalah kita pada bagian yang mungkin paling sulit dipahami oleh hati kita. Nabi saw. tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk membenci. Ketika Malaikat Penjaga Gunung datang menawarkan pembalasan, beliau tidak memilih kehancuran Tha’if. Masih ada harapan di dalam hati beliau, mungkin kelak dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah. Betapa luas hati itu. Tubuhnya terluka, tetapi pandangannya tidak ikut terluka. Ia disakiti oleh manusia, tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusia.
Di sinilah kisah Tha’if perlahan berubah menjadi cermin bagi kita. Kita hidup jauh setelah Nabi. Kita tidak berjalan puluhan kilometer dengan kaki berdarah untuk menyampaikan kalimat tauhid. Kita tidak kehilangan rumah karena mempertahankan iman. Kita tidak mengalami pemboikotan Quraisy. Kita menerima Islam dalam keadaan yang jauh lebih mudah. Tetapi entah mengapa, sedikit perbedaan kadang sudah cukup membuat kita merasa sedang berada di medan perang. Kita bertengkar karena organisasi, mazhab, tokoh, pilihan politik, atau perbedaan dalam perkara-perkara cabang. Kita mudah tersinggung ketika pendapat kita dibantah. Kita ingin menang dalam perdebatan. Kita ingin terlihat benar. Dan tanpa sadar, sesuatu yang sangat kecil kita beri nama perjuangan hidup mati.
Mungkin karena itu kisah Tha’if terasa begitu jauh sekaligus begitu dekat. Jauh karena kita tidak mungkin mengalami apa yang dialami Nabi. Dekat karena kita setiap hari berhadapan dengan pilihan yang sama, ketika terluka, apakah kita akan menjadi lebih keras atau tetap menyimpan kasih sayang? Ketika ditolak, apakah kita akan membalas atau mencari jalan lain? Ketika harga diri kita disentuh, apakah yang kita bela benar-benar kebenaran, atau jangan-jangan hanya diri kita sendiri?
Rabi’ul Awwal datang setiap tahun membawa nama Muhammad saw. kepada kita. Shalawat kembali dilantunkan. Sirah kembali dibaca. Tetapi mungkin ada satu hal yang layak kita bawa pulang dari Tha’if, ukuran perjuangan tidak selalu terletak pada seberapa keras kita mempertahankan sesuatu, melainkan pada seberapa besar sesuatu itu mendekatkan kita kepada Allah. Nabi saw. berdarah-darah agar manusia menemukan jalan menuju-Nya. Kita terkadang hanya berbeda pendapat, lalu rela melukai persaudaraan demi mempertahankan ego.
Maka barangkali, di hadapan kaki Nabi yang pernah berdarah di jalan Tha’if, kita tidak perlu merasa sebagai orang-orang yang telah banyak berjuang. Cukuplah kita bertanya kepada diri sendiri, dengan suara yang pelan dan jujur: seberapa besarkah perjuanganku? Dan ketika pertanyaan itu benar-benar menemukan tempat di dalam hati, mungkin kita akan memahami bahwa mencintai Nabi bukanlah tentang menjadi paling keras membela namanya, melainkan menjadi sedikit lebih luas hatinya, sedikit lebih lembut kepada sesama, dan sedikit lebih kecil di hadapan Allah Swt. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.***