Saya masih mengingatnya. Kira-kira Tahun 1990. Saya masih mahasiswa semester II di salah satu Universitas terkemuka di Makassar. Usia kami masih muda. Darah masih panas. Semangat sedang berada pada puncaknya. Dan ketika berita tentang hasil survei Tabloid Monitor itu sampai kepada kami, kemarahan seperti menemukan bahan bakarnya.
Saya marah. Teman-teman saya marah. Bukan marah yang disimpan dalam hati. Bukan pula kemarahan yang cukup dibicarakan di ruang kuliah. Kami turun ke jalan. Kami berkeliling Kota Makassar, dari satu ga'de-ga'de kecil ke ga'de-ga'de yang lain. Kami mencari Tabloid Monitor. Setiap kali menemukannya, kami merebutnya dari tangan para pengecer. Superioritas kami sebagai mahasiswa ketika itu seperti tidak dapat dibendung. Para pengecer tidak berdaya menghadapi segerombolan mahasiswa yang datang dengan kemarahan yang kami anggap sebagai pembelaan terhadap kehormatan Nabi.
Tabloid-tabloid itu kami kumpulkan. Berkarung-karung. Lalu semuanya kami bawa ke halaman kampus. Kami tumpuk. Menjadi sebuah bukit kecil. Dan di hadapan mata kami yang masih muda, bukit kertas itu kami bakar. Api menjilat lembar demi lembar. Kami merasa telah melakukan sesuatu. Kami merasa sedang membela Muhammad saw.
Hari ini, puluhan tahun kemudian, ketika mengingat peristiwa itu, saya tidak ingin menyangkal kemarahan itu. Saya juga tidak ingin membenarkan seluruh cara yang kami lakukan. Saya hanya kembali bertanya: Apa sebenarnya yang sedang kami bela ketika itu?
Dan pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika saya kembali membaca kisah survei tersebut. Pada tahun 1990, Tabloid Monitor membuat sebuah jajak pendapat tentang tokoh yang paling dikagumi pembacanya. Puluhan ribu kartu pos masuk. Hasilnya kemudian dipublikasikan dengan daftar 50 tokoh yang paling dikagumi. Nama-nama yang muncul sangat beragam. Presiden Soeharto berada di urutan pertama. B.J. Habibie di urutan kedua. Soekarno ketiga. Iwan Fals keempat. Zainuddin MZ kelima. Dan seterusnya. Sampai kemudian kita menemukan sebuah nama yang bagi umat Islam bukan sekadar nama. Muhammad. Tetapi nama itu berada di urutan kesebelas. Yang membuat kontroversi semakin panas, nama Arswendo Atmowiloto, pemimpin redaksi Monitor, berada di urutan kesepuluh. Satu tingkat di atas Nabi Muhammad saw.
Bagi kami yang masih mahasiswa, angka itu terasa seperti penghinaan. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Muhammad berada di bawah manusia biasa? Bagaimana mungkin manusia yang namanya disebut dalam azan di seluruh dunia berada dalam sebuah daftar yang menempatkannya hanya sebagai nomor sebelas? Maka kami membakar Tabloid Monitor.
Tetapi hari ini saya justru bertanya: Apakah Muhammad membutuhkan peringkat itu? Muhammad saw. tidak pernah menjadi mulia karena sebuah survei. Beliau tidak menjadi agung karena jumlah suara. Beliau tidak membutuhkan kartu pos manusia untuk menentukan kedudukannya. Allah sendiri yang mengangkat namanya. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ "Dan Kami telah meninggikan bagimu sebutan namamu."
Empat belas abad telah berlalu sejak Muhammad saw meninggalkan dunia. Tetapi lihatlah apa yang terjadi. Setiap hari, di seluruh penjuru bumi, ketika azan dikumandangkan, nama Muhammad disebut setelah nama Allah. Ketika seorang Muslim hendak berdoa, ia bershalawat kepadanya. Ketika namanya disebut, jutaan manusia spontan mengucapkan: صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ia tidak membutuhkan survei. Ia tidak membutuhkan suara terbanyak. Ia tidak membutuhkan ranking. Sebab ada kemuliaan yang tidak pernah ditentukan oleh manusia. Dan di sinilah saya mulai melihat kembali kemarahan saya puluhan tahun yang lalu. Mungkin kami memang sedang membela cinta. Tetapi mungkin kami belum memahami sepenuhnya bagaimana cara mencintai Baginda Nabi saw.
Kami membakar kertas yang memuat namanya. Tetapi apakah setelah itu kami membaca kehidupannya? Kami marah ketika namanya ditempatkan di urutan kesebelas. Tetapi apakah dalam kehidupan kami, Muhammad saw., berada di urutan pertama? Ini pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan. Sebab bisa jadi kita sangat marah ketika Nabi dihina, tetapi kita pun masih berbohong. Bisa jadi kita begitu tersinggung ketika nama Nabi direndahkan, tetapi kita pun masih menzalimi orang lain. Bisa jadi kita paling keras bershalawat, tetapi masih paling sulit memaafkan. Padahal Muhammad saw., datang membawa rahmat. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Maka mungkin bentuk pembelaan paling tinggi terhadap Muhammad bukanlah membakar sebuah tabloid. Melainkan menghidupkan akhlaknya. Ketika beliau dicaci, beliau bersabar. Ketika beliau disakiti, beliau mendoakan. Ketika beliau menang, beliau memaafkan. Ketika beliau memiliki kekuasaan, beliau tidak menjadi zalim. Ketika beliau hidup sederhana, beliau tidak mengeluh. Ketika umatnya melakukan kesalahan, beliau mendidik, bukan mempermalukan. Dan ketika menjelang wafat, pikirannya masih tertuju kepada umatnya.
Kita yang tidak pernah melihat wajahnya justru menjadi umat yang dirindukannya. Lalu hari ini, 12 Rabi'ul Awwal, saya kembali kepada kenangan itu. Saya melihat diri saya yang masih muda. Saya melihat teman-teman mahasiswa yang penuh semangat. Saya melihat tumpukan Tabloid Monitor yang menjadi bukit kecil di halaman kampus. Saya melihat api yang membakar kertas-kertas itu. Dan saya tersenyum getir. Betapa muda kami. Betapa berapi-api kami. Betapa sederhana cara kami memahami cinta.
Tetapi saya tidak ingin membuang kenangan itu. Saya ingin menjadikannya pelajaran. Sebab mungkin cinta kepada Nabi memang sering bermula dari kemarahan ketika kehormatannya disentuh. Tetapi cinta tidak boleh berhenti di sana. Ia harus tumbuh. Dari marah menjadi rindu. Dari rindu menjadi mengenal. Dari mengenal menjadi mengikuti. Dari mengikuti menjadi berakhlak. Dan dari akhlak itu, orang lain merasakan bahwa Muhammad saw., benar-benar hadir dalam kehidupan kita.
Hari ini saya tidak lagi ingin mencari tahu Muhammad berada di urutan berapa. Sebab pertanyaan itu sudah tidak penting. Yang lebih penting adalah: Di urutan berapakah Muhammad dalam kehidupan saya? Apakah beliau nomor satu ketika saya memilih antara ego dan akhlak? Apakah beliau nomor satu ketika saya berhadapan dengan orang yang menyakiti saya? Apakah beliau nomor satu ketika saya memegang amanah? Apakah beliau nomor satu ketika saya memperlakukan keluarga? Apakah beliau nomor satu ketika saya berhadapan dengan orang miskin, lemah, dan tidak berdaya?
Di situlah cinta diuji. Bukan pada seberapa keras kita berteriak ketika nama beliau dihina. Tetapi pada seberapa jauh akhlaknya hidup di dalam diri kita. Maka pada 12 Rabi'ul Awwal ini, setelah sekian puluh tahun berlalu, saya ingin mengucapkan sesuatu yang bukan lagi seperti kemarahan masa muda saya:
Ya Rasulullah, maafkan kami. Dulu kami membakar kertas karena mengira itulah cara membela kehormatanmu. Hari ini kami ingin belajar cara yang lebih tinggi: Menghidupkan kasih sayangmu. Menghidupkan kejujuranmu. Menghidupkan kesabaranmu. Menghidupkan keberanianmu. Menghidupkan akhlakmu. Sebab akhirnya saya memahami satu hal: Engkau tidak pernah membutuhkan peringkat.
Dan mungkin itulah sebabnya, semakin tua usia kita, semakin kita menyadari bahwa nikmat terbesar dalam hidup ini bukanlah pernah berada di kampus yang besar, bukan pernah memiliki jabatan, bukan pula pernah memenangkan perdebatan. Nikmat terbesar itu adalah: Allah memperkenalkan kita kepada Muhammad saw. Dan menjadikan kita bagian dari umatnya. Barangkali setelah puluhan tahun, api di halaman kampus itu telah padam. Tetapi semoga api yang lain justru semakin menyala: api cinta kepadamu Ya Rasulallah. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***