Ada manusia yang masa lalunya begitu gelap, sehingga kita merasa sulit membayangkan ia kelak berdiri di sisi cahaya. Khalid bin al-Walid adalah salah satunya.
Sebelum menjadi Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus) ia pernah berdiri di seberang Nabi Muhammad saw. Ia bukan sekadar orang yang tidak menyukai Islam. Ia pernah menjadi salah seorang lawan yang paling berbahaya bagi kaum Muslimin. Bahkan banyak membunuh kaum Muslimin.
Pada Perang Uhud, Khalid, yang ketika itu belum memeluk Islam, memimpin pasukan berkuda Quraisy. Ketika sebagian pasukan Muslim meninggalkan posisi di atas bukit karena mengira perang telah berakhir, Khalid melihat celah itu. Ia memutar pasukannya, menyerang dari belakang, dan mengubah keadaan medan perang. Kaum Muslimin yang semula hampir memperoleh kemenangan tiba-tiba berada dalam kekacauan. Dalam peristiwa itu banyak sahabat Nabi gugur. Hamzah ibn ‘Abd al-Muththalib, paman Nabi, juga syahid. Khalid berada di pihak yang memerangi mereka. Betapa jauh jarak antara Khalid yang dahulu dan Khalid yang kemudian. Tetapi justru di situlah kisahnya menjadi penting. Sebab manusia tidak selalu harus dibaca hanya dari halaman masa lalunya.
Beberapa tahun kemudian, sesuatu bergerak di dalam dirinya. Khalid bukan orang yang tidak mampu melihat. Ia seorang prajurit yang tajam membaca keadaan. Ia mulai menyaksikan bahwa Islam tidak semakin lemah sebagaimana yang dibayangkan Quraisy. Sebaliknya, Islam tumbuh. Ia juga mulai bertanya kepada dirinya sendiri: jika Muhammad seorang pendusta, mengapa dakwahnya justru semakin kuat?
Dalam perjalanan waktu, ia mulai merasakan bahwa pertentangannya terhadap Nabi semakin sulit dipertahankan. Akhirnya, setelah Perjanjian Hudaibiyah dan menjelang Fathu Makkah, Khalid memilih jalan yang lain. Ia datang kepada Nabi Muhammad saw. dan menyatakan keislamannya. Di sini ada sesuatu yang indah dari cara Nabi menghadapi Khalid. Nabi tidak berkata: “Bukankah engkau yang dahulu memerangi kami?” Tidak pula: “Bagaimana mungkin kami mempercayaimu setelah apa yang telah kaulakukan?” Nabi menerima keislamannya.
Bukan berarti masa lalu menjadi tidak pernah terjadi. Tetapi Nabi memahami satu hal yang sering kita lupakan: manusia bukan hanya kumpulan kesalahannya. Dalam sebuah riwayat, Khalid sendiri mengenang bahwa sebelum masuk Islam ia pernah melakukan berbagai tindakan yang ia sesali. Tetapi setelah ia datang kepada Rasulullah saw., Nabi membukakan pintu baru baginya. Islam tidak meminta Khalid untuk menghapus masa lalunya. Islam memberinya kesempatan untuk mengubah arah hidupnya. Nabi tidak membekukan manusia pada masa lalunya.
Kita sering melakukan sebaliknya. Seseorang pernah salah, lalu kesalahannya menjadi identitas permanen. Seseorang pernah jatuh, lalu kita merasa ia tidak berhak berdiri kembali. Seseorang pernah menjadi musuh, lalu kita tidak percaya bahwa ia mungkin suatu hari menjadi sahabat. Padahal sejarah Islam justru penuh dengan manusia yang berubah. ‘Umar ibn al-Khattab pernah datang dengan kemarahan untuk menghentikan Nabi, lalu menjadi salah seorang pembela Islam terbesar.
Khalid bin al-Walid pernah menghunus pedang melawan kaum Muslimin, lalu menjadi pembela mereka. Karena itu, mungkin tugas kita bukan hanya bertanya: “Apa yang pernah dilakukan orang itu?” Tetapi juga: “Ke mana ia sedang bergerak sekarang?”
Maka barangkali tidak ada manusia yang boleh kita kunci selamanya di dalam satu kata: jahat, sesat, gagal, pengkhianat, atau musuh. Apalagi jika penilaian seperti itu, muncul karena perbedaan arah politik dan arahan pilihan dan kebijakan kita yang berbeda. Selama hayat masih ada, pintu perubahan belum tertutup. Dan mungkin ada satu pelajaran yang lebih dalam lagi. Kadang-kadang Allah tidak mengubah seseorang dengan menghapus kekuatan yang ada padanya. Allah hanya mengubah arah kekuatan itu. Keberanian Khalid tetap ada. Kecerdasannya tetap ada. Keahliannya membaca medan tetap ada. Pedangnya tetap tajam. Yang berubah adalah ke mana semuanya diarahkan. Dahulu untuk melawan Islam. Kemudian untuk membelanya. Bukankah demikian pula manusia?
Kita tidak selalu membutuhkan manusia yang sama sekali baru. Kita membutuhkan manusia yang menemukan arah baru. Karena itu, jangan terlalu cepat memvonis seseorang dari masa lalunya. Dan jangan terlalu cepat berputus asa terhadap diri sendiri. Sebab Khalid bin al-Walid mengajarkan sebuah kalimat yang mungkin sederhana, tetapi sangat besar maknanya: Manusia bisa berubah. Dan kadang-kadang, orang yang hari ini paling jauh dari kita, justru suatu hari dapat berdiri di samping kita, membela apa yang dahulu ia lawan. Nabi Muhammad saw. memberi ruang bagi perubahan itu. Mungkin karena beliau memahami sesuatu yang sering tidak kita pahami: Allah tidak hanya melihat siapa seseorang kemarin. Allah juga melihat siapa yang sedang ia pilih untuk menjadi hari ini. *Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***
Salman Ahmad