“Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan benar-benar binasa dia.” Begitulah Al-Qur’an membuka sebuah surah yang sangat pendek, Surah al-Masad.
Tidak banyak manusia yang namanya disebut secara langsung dalam Al-Qur’an untuk dicela. Abu Lahab adalah salah satunya. Dan di sini terdapat sesuatu yang menarik: Abu Lahab bukan orang sembarangan. Ia bukan rakyat biasa yang kebetulan berada di tengah kerumunan orang-orang yang menolak Nabi. Ia berasal dari keluarga yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad saw. Bahkan ia adalah salah seorang paman beliau. Namanya ‘Abd al-‘Uzzā ibn ‘Abd al-Muttalib. Ia berasal dari Bani Hasyim, keluarga terhormat di tengah Quraisy. Ia memiliki kedudukan sosial yang tinggi, hubungan kekerabatan dengan Nabi, dan posisi yang membuatnya dikenal luas di Makkah. Julukan Abu Lahab sendiri berarti “Bapak Api”. Sebagian ulama mengaitkannya dengan wajahnya yang kemerah-merahan dan bercahaya. Orang yang disebut Abu Lahab akhirnya dikaitkan dengan api yang bukan sekadar warna wajah, melainkan api neraka yang menyala-nyala.
Di sinilah perbedaan Abu Lahab dan Abu Jahal menjadi menarik. Abu Jahal memiliki kekuasaan sosial. Abu Lahab memiliki kehormatan nasab. Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, salah satu klan kuat Quraisy. Ia dikenal sebagai tokoh yang mempunyai pengaruh politik dan kemampuan memobilisasi penentangan terhadap Nabi. Abu Lahab berbeda. Ia berdiri sangat dekat dengan Nabi secara darah. Tetapi kedekatan biologis tidak otomatis melahirkan kedekatan spiritual.
Inilah salah satu pelajaran yang paling mengguncang dari kisah Abu Lahab: seseorang dapat sangat dekat dengan seorang nabi secara nasab, tetapi sangat jauh dari Allah secara batin. Ia paman Nabi. Tetapi kepamanannya tidak menyelamatkannya. Ia satu keluarga dengan Muhammad. Tetapi keluarganya tidak membuatnya menerima risalah Muhammad. Seolah-olah Al-Qur’an hendak meruntuhkan sebuah anggapan lama, bahwa kehormatan seseorang dapat diwariskan melalui darah.
Tidak.
Di hadapan Allah, nasab tidak cukup. Nama besar tidak cukup. Keluarga besar tidak cukup. Kedudukan tidak cukup. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan seseorang dengan semua kehormatan itu.
Abu Lahab bahkan menjadi lebih buruk karena ia menggunakan kedekatannya dengan Nabi untuk melawan Nabi. Dalam beberapa riwayat sirah, ketika Nabi Muhammad saw. mulai menyeru kaum Quraisy secara terbuka, Abu Lahab hadir dan menunjukkan permusuhannya. Ia bahkan pernah melemparkan penghinaan yang kemudian menjadi bagian dari sejarah dakwah. Maka turunlah: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.”
Perhatikan kata “tangan”. Tabbat yadā. Tangan adalah simbol perbuatan. Tangan adalah sesuatu yang bekerja, melakukan, memberi, mengambil, mendorong, memukul, atau merusak. Seolah-olah kebinasaan itu tidak hanya tertuju pada pikiran yang salah, tetapi pada perbuatan yang lahir dari kesombongan dan permusuhan.
Dan setelah itu Al-Qur’an menyatakan: مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ “Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang ia usahakan.” Abu Lahab memiliki sesuatu yang sering membuat manusia merasa aman: harta dan kehormatan. Tetapi ketika berhadapan dengan kebenaran, semua itu ternyata tidak mempunyai daya penyelamatan.
Di sinilah Abu Lahab dan Abu Jahal kembali bertemu. Yang satu mengandalkan nasab. Yang satu mengandalkan pengaruh. Yang satu dekat karena hubungan keluarga. Yang satu kuat karena posisi sosial. Tetapi keduanya mempunyai satu titik yang sama: kesombongan yang membuat mereka tidak sanggup menerima kebenaran.
Dan barangkali inilah yang membuat Abu Lahab lebih dekat dengan kita daripada yang kita kira. Sebab manusia modern pun masih gemar mengumpulkan “nasab-nasab” baru. Ada yang bangga karena keturunan. Ada yang bangga karena jabatan. Ada yang bangga karena gelar. Ada yang bangga karena kekayaan. Ada yang bangga karena jumlah pengikut. Ada yang bangga karena kedekatan dengan tokoh. Tetapi Al-Qur’an seperti bertanya: Apa yang semua itu lakukan terhadap jiwamu?
Seseorang bisa memiliki nama besar dan hati yang kecil. Bisa memiliki keluarga terhormat dan perilaku yang hina. Bisa dekat dengan orang saleh tetapi jauh dari kesalehan. Bisa tinggal di lingkungan agama tetapi tidak pernah benar-benar sampai kepada Tuhan.
Abu Lahab mengajarkan sesuatu yang pahit: kehormatan sosial tidak selalu menjadi kehormatan di hadapan Allah. Dan ada satu ironi terakhir. Abu Lahab adalah paman Nabi. Abu Jahal bukan keluarga dekat Nabi. Tetapi keduanya berdiri di barisan yang sama dalam memusuhi dakwah. Sejarah akhirnya tidak bertanya lagi siapa yang lebih tinggi kedudukannya di antara keduanya. Sebab ketika kebenaran datang, kedudukan tidak lagi menjadi ukuran. Yang tersisa hanyalah pilihan. Apakah kita menggunakan kehormatan untuk mendekati kebenaran, atau justru menggunakan kehormatan untuk melindungi kesombongan? Abu Lahab memiliki nama. Abu Jahal memiliki pengaruh. Tetapi keduanya kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: kerendahan hati di hadapan kebenaran.
Dan mungkin karena itu, Surah al-Masad tidak perlu panjang. Lima ayat saja sudah cukup. Sebab untuk menunjukkan bahwa manusia bisa kehilangan seluruh kehormatannya hanya karena satu penyakit batin, Al-Qur’an tidak membutuhkan banyak kata. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***
Salman Ahmad