UIN Alauddin dan UIN Jakarta Bahas Masa Depan Kurikulum Ilmu Perpustakaan di Era AI
UIN Alauddin Online — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mengubah cara perpustakaan dan lembaga informasi bekerja. Perubahan tersebut turut mendorong pendidikan Ilmu Perpustakaan untuk meninjau kembali kompetensi yang perlu dipersiapkan bagi mahasiswa agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan tim peneliti Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar, Senin (10/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari penelitian mengenai pengembangan dan implementasi kurikulum yang terintegrasi dengan Artificial Intelligence dalam pendidikan Ilmu Perpustakaan.
Dekan FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum., yang memimpin tim peneliti, membuka diskusi dengan mengulas kesiapan pendidikan Ilmu Perpustakaan dalam menghadapi perubahan teknologi.
Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga mengubah pola kerja di perpustakaan dan lembaga informasi. Karena itu, mahasiswa Ilmu Perpustakaan perlu dibekali kemampuan memahami sekaligus menilai pemanfaatan AI secara kritis.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan pengelolaan informasi secara konvensional, tetapi juga perlu memahami dan memanfaatkan teknologi AI secara kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ade menambahkan, integrasi AI dalam kurikulum menjadi penting karena perkembangan teknologi turut mengubah kebutuhan kompetensi lulusan Ilmu Perpustakaan. Kurikulum, menurutnya, perlu mampu merespons perubahan tersebut tanpa mengabaikan landasan keilmuan yang menjadi kompetensi utama bidang perpustakaan dan informasi.
Sementara itu, Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar, Touku Umar, S.Hum., M.IP., mengatakan perubahan teknologi perlu direspons melalui kurikulum yang adaptif.
“Kurikulum Ilmu Perpustakaan perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab perubahan teknologi. Integrasi AI harus dilakukan secara terarah dan tetap memperhatikan aspek akademik, etika, serta kebutuhan pengguna informasi,” katanya.
Menurutnya, penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan dasar bidang Ilmu Perpustakaan. Mahasiswa tetap perlu memiliki kemampuan mengelola, mengevaluasi, dan menyediakan informasi, dengan teknologi ditempatkan sebagai instrumen pendukung.
Selain membahas pengembangan kurikulum, kunjungan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman antara Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Makassar dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai perkembangan pendidikan Ilmu Perpustakaan di tengah transformasi teknologi.
Melalui pengembangan kurikulum yang adaptif, pendidikan Ilmu Perpustakaan diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai pengelolaan informasi, tetapi juga memiliki kecakapan digital serta kemampuan memanfaatkan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.