Jawab Tantangan Abad 21, Prof. Usman Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UIN Alauddin Makassar
UIN Alauddin Online — Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar resmi mengukuhkan Prof. Dr. Usman, S.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa yang dipimpin oleh Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., di Auditorium UIN Alauddin Makassar pada Selasa, 29 September 2026.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul 'Kolaborasi dan Karakter: Menavigasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Koperatif-Islami di Tengah Kompleksitas Pembelajaran Abad 21', Prof. Usman menyoroti pentingnya reorientasi strategi pembelajaran PAI. Langkah ini dinilai mendesak untuk merespons pesatnya gempuran disrupsi digital dan pergeseran moralitas masyarakat di era modern.
Prof. Usman menyampaikan bahwa tantangan terbesar PAI saat ini adalah menggeser paradigma dari sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge) menjadi transformasi nilai (transformation of values). Menurutnya, derasnya arus informasi digital kerap membawa nilai-nilai sekularisme dan hedonisme yang berpotensi memicu krisis identitas serta moralitas di kalangan generasi muda.
"Pendidikan abad 21 mengharuskan peserta didik menguasai keterampilan 4C. Namun, penguasaan keterampilan kognitif dan teknis tersebut akan menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan fondasi karakter yang kuat. Pendidikan tanpa karakter hanya akan melahirkan robot-robot cerdas yang miskin empati dan nilai-nilai kemanusiaan," tegas Prof. Usman di hadapan jajaran Senat dan civitas akademika.
Lebih lanjut, Prof. Usman mengungkapkan bahwa maraknya fenomena literasi keagamaan instan dari media sosial tanpa pendampingan kritis pendidik sangat rentan melahirkan pemahaman agama yang dangkal hingga ekstrem. Selain itu, ia mengkritik sistem pendidikan modern yang terlalu mengagungkan kompetisi individualis dan mengesampingkan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menawarkan konsep sekolah berbasis koperatif-islami yang merevitalisasi nilai-nilai ta'awun (tolong-menolong), musyawarah, keadilan, amanah, dan ukhuwah islamiyah. Menurutnya, pendekatan kolaboratif ini dapat meruntuhkan ego sektoral serta menciptakan ekosistem belajar yang inklusif dan ramah bagi peserta didik.
Dalam naskahnya, Prof. Usman juga merumuskan sepuluh pilar strategis untuk membangun ketahanan karakter abad 21, yang meliputi penguatan tabayyun digital, integrasi pendidikan antikorupsi, ekologi spiritual, moderasi beragama, hingga pembiasaan empati sosial.
Di akhir pidatonya, Prof. Usman merekomendasikan agar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama memberikan otonomi yang lebih luas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal berbasis nilai-nilai keislaman. Acara pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh jajaran Senat, Dewan Guru Besar, civitas akademika, serta keluarga dan tamu undangan.