Gambar Guru Besar UIN Alauddin Soroti Ayat Al-Qur’an Dijadikan Gimmick Festival Musik

Guru Besar UIN Alauddin Soroti Ayat Al-Qur’an Dijadikan Gimmick Festival Musik

UIN Alauddin Online — Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Munawir K., S.Ag., M.Ag., menyoroti beredarnya video yang memperlihatkan hafalan ayat Al-Qur’an dikaitkan dengan tantangan berhadiah minuman beralkohol dalam sebuah festival musik di Jakarta.

Guru Besar bidang Pendidikan Akhlak UIN Alauddin tersebut menilai fenomena itu perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam melihat batas antara kreativitas, hiburan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai agama.

Peristiwa tersebut mencuat setelah video dari salah satu booth dalam festival musik The Sounds Project di kawasan Ancol, Jakarta Utara, beredar luas di media sosial pada Minggu (9/8/2026). Dalam video tersebut, seorang pengunjung terlihat melafalkan Surah Ad-Duha dalam sebuah challenge yang dikaitkan dengan imbalan minuman beralkohol.

Prof. Munawir mengatakan, terlepas dari konteks lengkap peristiwa yang perlu diklarifikasi secara objektif, penggunaan ayat suci dalam permainan dengan hadiah minuman keras wajar memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat.

“Ketika ayat suci ditempatkan sebagai bagian dari permainan yang hadiahnya minuman keras, sensitivitas keagamaan umat wajar terusik,” tandas Prof. Munawir dalam tanggapan tertulisnya, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, kreativitas dalam industri hiburan tetap membutuhkan batas etika. Sesuatu yang mungkin dipandang sebagai gimmick untuk menarik perhatian dapat dimaknai berbeda ketika menyentuh sesuatu yang memiliki kedudukan sakral bagi masyarakat.

“Kreativitas memang penting. Konser boleh meriah, promosi boleh menarik, dan dunia industri membutuhkan inovasi. Tetapi kreativitas tanpa etika dapat berubah menjadi kebablasan,” tegasnya.

Prof. Munawir mengingatkan agar Al-Qur’an tidak ditempatkan sebagai instrumen promosi atau sekadar properti dalam sebuah pertunjukan.

“Al-Qur’an bukan slogan. Bukan properti panggung. Bukan alat untuk menarik perhatian. Dan terlebih lagi, bukan tiket untuk memperoleh minuman keras,” ujarnya.

Ia menilai persoalan yang lebih luas dari fenomena tersebut adalah munculnya kecenderungan menjadikan segala sesuatu sebagai konten demi mengejar perhatian publik.

Menurutnya, logika “yang penting viral” perlu dikritisi karena dapat menggeser batas kepatutan dan penghormatan terhadap nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Meski demikian, Prof. Munawir juga mengingatkan masyarakat agar menyikapi persoalan tersebut secara proporsional. Kritik dan keberatan terhadap dugaan tindakan yang tidak tepat tetap perlu disampaikan, tetapi tidak boleh berubah menjadi tindakan yang bertentangan dengan akhlak.

“Maka, sikap kita harus jelas, yakni tegas tanpa beringas, kritis tanpa memfitnah, marah tanpa kehilangan akal sehat, dan membela agama tanpa meninggalkan akhlak,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum, persoalan tersebut diserahkan kepada aparat untuk diproses secara profesional. Masyarakat, kata dia, tetap dapat menyampaikan kritik dan keberatan tanpa melakukan tindakan yang justru menimbulkan persoalan baru.

Prof. Munawir berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi penyelenggara kegiatan, pelaku industri hiburan, sponsor, dan masyarakat agar lebih cermat dalam menentukan batas kreativitas.

"Viralitas hanya berlangsung sesaat, sementara penghormatan terhadap agama, martabat manusia, dan etika publik merupakan nilai yang perlu dijaga dalam kehidupan bersama," tutupnya.

Previous Post UIN Alauddin dan ATR/BPN Sulsel Sepakati Kerja Sama Pemanfaatan Data Pertanahan dan Pengembangan KKN
Next Post 45 Hari KKN 79 UIN Alauddin di Letta, 17 Program Dijalankan