FSH UIN Alauddin Isi Studium General IAIN Sorong, Bahas Maqasid Syariah hingga Transformasi AI
UIN Alauddin Online — Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar turut memperkaya wawasan mahasiswa baru IAIN Sorong melalui Studium General bertema “Dari Papua untuk Dunia: Transformatif Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Menuju Generasi Unggul, Moderat, dan Berwawasan Global” di Gedung Aula IAIN Sorong, Rabu (16/9/2026).
Dekan FSH UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A., dan Wakil Dekan I , Dr. Rahman Syamsuddin, S.H., M.H. tampil sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
Studium General menjadi bagian dari rangkaian pengenalan akademik bagi 270 mahasiswa baru IAIN Sorong yang dirancang untuk memperluas perspektif mengenai pendidikan, perkembangan teknologi, nilai-nilai keislaman, serta tantangan generasi muda Papua.
Ketua Panitia, Andi Ahriani, mengatakan Studium General menjadi salah satu langkah awal mahasiswa dalam memasuki lingkungan akademik. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mengikuti proses perkuliahan, tetapi juga diarahkan agar mampu memberi kontribusi bagi Papua, Indonesia, hingga dunia.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi IAIN Sorong dalam membentuk generasi yang unggul, moderat, dan memiliki wawasan global. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan, panitia, narasumber, dan seluruh pihak yang mendukung terlaksananya kegiatan.
Sementara itu, Rektor IAIN Sorong, Dr. Suparto Iribaram, S.Sos., M.A., saat membuka kegiatan menyoroti perkembangan teknologi yang semakin mempersempit batas ruang dan jarak dalam memperoleh informasi serta pengetahuan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa Papua untuk memperluas wawasan dengan memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif. Mahasiswa juga didorong tidak sekadar menjadi pengguna informasi, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan berkontribusi dalam menjawab persoalan masyarakat maupun dunia.
Pesan tersebut kemudian menjadi pengantar menuju sesi inti Studium General yang dipandu Nengsih Sri Wahyuni, dosen IAIN Sorong, sebagai moderator.
Prof. Abd. Rauf menjadi narasumber pertama dengan materi mengenai pentingnya maqasid syariah dalam memahami kehidupan kontemporer. Ia menjelaskan bahwa maqasid syariah dapat menjadi kerangka untuk memahami dan menjawab persoalan kehidupan secara lebih mendalam.
Pendekatan tersebut, menurutnya, memungkinkan nilai-nilai keislaman berdialog dengan realitas yang terus berubah. Mahasiswa tidak cukup berhenti pada pemahaman tekstual, tetapi perlu melihat konteks, tujuan, dan kemaslahatan yang terkandung dalam suatu persoalan.
“Maqasid syariah menjadi salah satu konsep penting untuk memahami dan menjawab berbagai persoalan kehidupan secara lebih mendalam. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai keislaman dapat terus berdialog dengan realitas kehidupan yang mengalami perubahan,” ujar Prof. Abd. Rauf.
Ia menambahkan, pemahaman maqasid syariah dapat membantu mahasiswa membangun cara beragama yang lebih kontekstual dan terbuka. Dengan perspektif tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat persoalan secara lebih luas sekaligus mencari solusi yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Materi berikutnya disampaikan Dr. Rahman Syamsuddin yang mengangkat isu transformasi pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital. Ia mengajak mahasiswa melihat perubahan teknologi, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi saat ini.
“Pendidikan harus terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Kehadiran teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu direspons dengan kemampuan mahasiswa untuk memanfaatkannya secara tepat, produktif, dan bertanggung jawab,” ujar Dr. Rahman.
Ia menjelaskan, pendidikan perlu beradaptasi agar mampu mengimbangi perkembangan teknologi. Mahasiswa bukan hanya dituntut mengikuti perubahan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran, pengembangan diri, serta menghasilkan gagasan yang bermanfaat.
Pendidikan, lanjutnya, merupakan salah satu jalan perubahan. Karena itu, mahasiswa Papua memiliki ruang yang semakin luas untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Melalui forum tersebut, mahasiswa baru IAIN Sorong tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga diajak membangun cara pandang sebagai bagian dari masyarakat akademik yang terbuka terhadap perubahan, tetap berpijak pada kearifan lokal, dan mampu melihat persoalan dalam perspektif yang lebih luas.