Gambar Bahasa Daerah Tana Luwu Terancam, Riset Kolaboratif UIN Alauddin Hadirkan Pemetaan Digital

Bahasa Daerah Tana Luwu Terancam, Riset Kolaboratif UIN Alauddin Hadirkan Pemetaan Digital

UIN Alauddin Online — Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan identitas budaya, kearifan lokal, dan ingatan kolektif masyarakat. Ketika penggunaannya menyusut, warisan tersebut ikut menghadapi risiko kehilangan ruang hidupnya.

Persoalan ini menjadi perhatian Dr. Serliah Nur, M.Hum., M.Ed., Kepala International Office (IO) sekaligus Sekretaris Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, saat mempresentasikan riset kolaboratif pada The 47th Asian Conference on Remote Sensing (ACRS 2026) di New Delhi, India, 12–16 Oktober 2026.

Riset berjudul “Language Vitality Mapping and Revitalization Planning in Tana Luwu: Integrating GIS Technology and Sociolinguistic Analysis” tersebut mengkaji vitalitas bahasa daerah di kawasan Tana Luwu melalui pendekatan sosiolinguistik dan teknologi geospasial. Penelitian ini dilakukan bersama Prof. Dr. Masruddin dari UIN Palopo dan Dr. Ilham Alimuddin dari Universitas Hasanuddin.

Wilayah kajian mencakup Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, dan Kota Palopo. Empat bahasa yang menjadi perhatian ialah Tae’, Rongkong, Wotu, dan Limola.


Dalam pemaparannya, Serliah menjelaskan bahwa urbanisasi yang berlangsung cepat, mobilitas penduduk, serta meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan turut memengaruhi penggunaan bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda.

“Ancaman terhadap bahasa daerah tidak hanya berarti hilangnya alat komunikasi, tetapi juga hilangnya identitas budaya, kearifan lokal, dan ingatan kolektif masyarakat setempat,” jelas Serliah.

Penelitian ini menggabungkan penilaian sosiolinguistik berdasarkan kerangka UNESCO dengan Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) dan teknologi penginderaan jauh. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengidentifikasi sekaligus memetakan wilayah tempat bahasa daerah masih digunakan secara luas maupun wilayah yang menghadapi risiko penurunan vitalitas bahasa.

Temuan awal memperlihatkan perbedaan penggunaan bahasa daerah antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Bahasa lokal relatif masih banyak digunakan di komunitas perdesaan dan wilayah pegunungan. Sebaliknya, penggunaannya terus menurun di kawasan perkotaan, khususnya Kota Palopo.

Bahasa Limola menjadi salah satu perhatian utama karena jumlah penuturnya terus berkurang sehingga menghadapi risiko kepunahan yang signifikan.

Temuan tersebut menjadi pijakan bagi tim peneliti untuk merencanakan pengembangan Digital Language Vitality Atlas of Tana Luwu, sebuah atlas digital vitalitas bahasa yang akan disusun melalui pemetaan partisipatif dan analisis data spasial.

Atlas ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah merumuskan kebijakan pelestarian bahasa, mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam kurikulum pendidikan, serta mengembangkan program revitalisasi yang melibatkan masyarakat.


Riset tersebut dipresentasikan dalam ACRS 2026, konferensi ilmiah internasional yang berlangsung pada 12–16 Oktober dengan tema “Remote Sensing for Future Earth: Innovation, Inclusion and Impact.” Kegiatan ini mempertemukan hampir 800 peserta dari 20 negara, termasuk peneliti, akademisi, praktisi industri geospasial, dan perwakilan badan antariksa.

Partisipasi Serliah dalam forum tersebut membawa persoalan keberlanjutan bahasa daerah Tana Luwu ke ruang diskusi akademik internasional. Kolaborasi lintas bidang ini sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi pemetaan dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pelestarian warisan bahasa dan budaya masyarakat.

Previous Post Dosen UIN Alauddin Hibahkan 11 Buku Karya Sendiri ke Perpustakaan Sao Panrita
Next Post Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Bedah Perkembangan Media Informasi di Politeknik ATI Makassar