facebook

twitter

email
Bahasa :
Senin, 19 November 2018


Minggu, 04 November 2018 | Ism


UIN Online-Aksi tawuran antar mahasiswa yang terjadi di kampus, saling lempar batu dan tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan telah mencoreng pemuda hari ini, ujar Syaiful saat menjadi pembicara dalam dialog kepemudaan di Lecturer Theatre (Lt) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar. 
Kegiatan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang jatuh 28 Oktober tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Penelitian dan Pengkajian Jas Merah FAH UIN Alauddin. Senin (29/10/2018)
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora itu menuturkan, mahasiswa seharusnya dapat menjadi pemuda yang dibanggakan dengan gerakan-gerakan kepemudaan seperti yang dilakukan mahasiswa di tahun 1965. Di mana, kata Syaiful, pemuda saat itu berada di fase tulang punggung sejarah.
Pemuda saat ini mengalami jalan buntu atau kemandekan. Entah apakah ini erat kaitannya dengan peristiwa 1965, atau peristiwa-peristiwa lainnya. Sampai tahun 80-an gerakan pemuda benar-benar tidak memperlihatkan apa-apa, ujarnya.
Meski demikian, ia percaya pemuda saat ini masih bisa menemui titik baliknya, di mana orang-orang yang sudah mulai jenuh dengan kondisi stagnasi sehingga mereka mencari jalan keluar. Entah itu dengan cara revolusioner atau dengan cara yang lain.
Generasi sekarang itu kan senang disebut sebagai generasi milenial, generasi yang melek informasi, tanggap teknologi. Di sisi lain milenial juga dapat berkonotasi negatif, seperti senang terburu-buru mengerjakan sesuatu, suka cara yang instan, sehingga membuat mereka menjadi malas dan tidak menghargai sebuah proses, jelasnya.
Dengan kondisi yang serba cepat, lanjutnya, pemuda seharusnya mengambil kesempatan itu dengan melakukan gerakan-gerakan positif. Hanya saja yang menjadi persoalan, Syaiful menyebut gerakan kepemudaan saat ini telah mengalami fragmentasi, yaitu gerakan-gerakan yang terpecah-pecah dan sangat berbeda dengan kelompok pemuda yang satu dengan yang lain.
Terjadi pola gerakan yang berbeda yang menimbulkan saling menyalahkan satu sama lain. Sehingga di sinilah kadang terjadi perpecahan, perseteruan, atau perkelahian, tandasnya.
Menanggapi aksi tawuran mahasiswa, Pengamat Politik dan Kebangsaan, Arqam Azikin mengatakan anak muda sekarang harus membuat sumpah pemuda yang baru, bukan lagi mengikuti sumpah pemuda yang lama. Sebab, kata dia, jaman yang ada sekarang sudah sangat berbeda dengan era mahasiswa dahulu.
Kalau kita kembalikan ke gerakan 28 Oktober (Hari Sumpah Pemuda), saya berharap kita mengintropeksi sejarah. Tetapi kita harus berpikir sesuai dengan era masing-masing. Karena sekarang eranya media sosial, bikinlah sumpah pemuda itu dengan ala mahasiswa UIN. Bukan tawuran di kampus, ngapain berkelahi di kampus? tegasnya.
Menurutnya, konteks berpikir anak muda itu adalah konteks berpikir seperti yang dilakukan Dr Wahidin, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Ashari. Apabila mahasiswa saat ini mengkaji mengenai ketiga sosok tersebut, maka pemuda sekarang akan menemui titik terang mengenai persatuan dan tanah air. 
Hal ini akan menjadikan anda sebagai orang yang cepat selesai di kampus, bukan hanya sekadar sarjana, tapi ada parameter kecil yang kalian punyai, tambahnya.
Lebih lanjut Arqam menuturkan, Muhammad Yamin menemukan mozaik sumpah pemuda bersama pemuda lainnya namun, cara berfikir mereka bukan hanya berhenti pada 28 Oktober saja, tetapi terus berlanjut hingga ke generasi selanjutnya. 
Paradigma berpikir 28 Oktober itu harus digeser ke 2018 menuju ke abad ke-22. Caranya adalah mengawal kedaulatan ini harus bersama-sama. Entah kalian jadi NU, Muhammadiyah, HMI, Wahdah, syariat Islam, pokoknya solid jadi umat islam. Kalau umat islam tidak solid, bangsa ini tidak lama akan hancur lebur, ungkapnya.
Ia berharap, mahasiwa UIN Alauddin dapat menjaga kampus bersama-sama. Sebab, kampus yang berbasiskan Islam ini merupakan bagian titik sentrum di Indonesia Timur, di mana pemikiran-pemikiran Islam, baik yang moderat dan modern ada di kampus ini. 
Disinilah kita harus berinteraksi. Tugasnya teman teman adalah membuat kaderisasi sebanyak mungkin. Setelah kaderisasi, kemudian dapat piagam, jangan berhenti di situ. Terus kembangkan diri, bukan malah tawuran yang akan menghancurkan kualitas pemuda itu sendiri, pungkas Arqam.
 

 

Kotak Komentar


[ Kembali ]

Saat memanfaatkan fasilitas internet kampus anda lebih banyak menggunakannya sebagai sarana:

Pembelajaran
Informasi Kampus
Pertemanan (Situs Jejaring)
Saya Belum Mencobanya

Lihat Hasil Poling
08 Oktober 2016

Oleh : Nursyam Aksa, S.T, M.Si.
Teknik PWK UIN Aauddin Makassar


Dari banyak literatur tentang sejarah ... Selengkapnya



07 September 2016

MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI (TIK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Selengkapnya



Artikel Sebelumnya

oleh: Hafsan
16 Oktober 2018

Tenaga pendidik dan peneliti pada Jurusan ... Selengkapnya



oleh: Nur Fadhilah Bahar
28 Desember 2016

Hasrullah, Mahasiswa Polyglot UIN Alauddin

Peraih ... Selengkapnya



kirimkan Opini anda
ke [opini(at)uin-alauddin.ac.id]