facebook

twitter

email
Bahasa :
Sabtu, 22 November 2014


Kamis, 05 Mei 2011 | Haidir Fitra Siagian, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin


Prosesi pelepasan almarhum Prof Dr H Abd Muin Salim sebelum di antar ke tempat peristirahatan terakhir, Rabu (4/5/2011)
UIN Online - Kembali civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar berduka. Kali ini Guru Besar Ilmu Tafsir yang juga mantan rektor, Prof. Dr. H. Abdul Muin Salim, M.A. menghadap Sang Khalik dalam usia 66 tahun, di Makassar, Rabu, 4 Mei 2011, dini hari.

“Bagi saya beliau adalah ulama dan ilmuwan kharismatik. Sulit kita menemukan sosok seorang ulama seperti almarhum. Saya kenal almarhum karena merupakan teman dekat bapak saya, H. Yasin Limpo. Sebagai seorang kiyai dan tokoh masyarakat, sering saya berkonsultasi dengan almarhum. Bila saya mengalami suatu kegagalan, beliau mengatakan Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik” demikian antara lain komentar Gubernur Sulawesi Selatan H. Syahrul Yasin Limpo, menjawab pertanyaan wartawan di rumah duka, BTN Tamarunang, Kec. Somba Opu, kemarin, tentang sosok almarhum.

Selain sebagai guru besar UIN Alauddin, almarhum juga adalah rektor Universitas Indonesia Timur sejak tahun 2002. Dalam bidang sosial, almarhum tercatat sebagai Ketua Dewan Syura KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam), Wakil Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia, dan Anggota Lajnah Tarjih Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Di samping itu, almarhum juga aktif membina pengajian bersama masyarakat di sekitar rumahnya.

Professor yang sangat sederhana, kata Anwar Abd. Rahman, dosen Fakultas Adab dan Humaniora. Dilihat dari rumahnya, sulit rasanya percaya ada seorang guru besar, mantan rektor, memiliki rumah yang beberapa bagian plafonnya sudah rusak. Rumah sudah tampak tua  berada di perkampungan, jauh dari kawasan kota. Menurut Anwar, dia pernah jadi stafnya ketika almarhum menjabat Pembantu Rektor I sekitar tahun 1996, kesan sederhana dan ramah sudah tampak dari almarhum. “Saya diajari komputer dan sering dibawakan makanan”, kenang Anwar.

Sementara itu bagi Dr. Arifuddin, M.Ag., dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi punya kesan sendiri. Ketika mengajar pada program magister, almarhum memindahkan jadwal mengajar ke sore hari jelang magrib. Setelah shalat magrib, almarhum bertanya berapa jumlah mahasiswa, lalu menyuruh stafnya membelikan nasi bungkus untuk para mahasiswa dengan uangnya sendiri. Setelah selesai makan bersama, lalu dilanjutkan perkuliahan. Hal ini dilakukan karena pemindahan jadwal kuliah atas permintaan almarhum, sebagai “ganti rugi” kepada mahasiswa yang rela menunggu lebih lama.

Sedangkan bagi Dra. Hj. Rahmawati, M.Pd, punya kenangan yang sangat berharga dengan amarhum. Menurutnya, ketika penerimaan dosen di UIN (dulu IAIN) sekitar awal tahun 1990-an, dia tidak lulus. Almarhum memanggilnya dan menanyakan kenapa tidak lulus. “Saya tidak ada yang merekomendir”, kata Rahmawati. Almarhum mengatakan; “Kamu wisudawan terbaik, jadi tidak perlu direkomendir”. Setelah dengan berbagai proses, almarhum mengupayakan supaya jatah dosen IAIN ditambah dengan memasukkan namanya tanpa mengorbankan calon yang lain.

Saya sendiri mengenal almarhum tahun 2005 menjelang Musyawarah Wilayah Muhammadiyah ke-37 di Parepare. Saya membawakan blangko kesediaan untuk dicalonkan sebagai pengurus Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Namun almarhum mengembalikan blangko tersebut dengan pernyataan tidak bersedia. “Saya akan membantu Muhammadiyah walaupun saya bukan pengurusnya”, kata almarhum saat itu. Benar saja, dalam berbagai kesempatan almarhum sering menjadi narasumber jika ada kegiatan Muhammadiyah, dan terakhir tercatat sebagai anggota Lajnah Tarjih, bidang yang membahas masalah-masalah hukum agama Islam.

Sosok kesederhanaan almarhum dan kedekatannya dengan umat terlihat dari antusiasnya warga melayat ke rumah duku. Tampak rektor UIN, Prof. Dr. H. Abdul Qadir Gassing, MS, Ketua MUI Sulsel, Prof. Muhammad Ghalib, Guru Besar Fisipol Unhas, Prof. Tahir Kasnawi dan seluruh pejabat dalam lingkup UIN Alauddin dan UIT Makassar. Tampak pula datang melayat istri Gubernur Sulsel, drg. Hj. Ayunsri SYL Harahap beberapa saat setelah gubernur meningglkan rumah duka. Shalat jenazah diadakan di masjid samping rumah almarhum dipimpin oleh Drs. K.H. Dahlan Yusuf, Wakil Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Almarhum dikebumikan di Pemakaman Islam Pattalassang Kabupaten Gowa. Semoga Allah memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Amien.

Kotak Komentar


[ Kembali ]

Saat memanfaatkan fasilitas internet kampus anda lebih banyak menggunakannya sebagai sarana:

Pembelajaran
Informasi Kampus
Pertemanan (Situs Jejaring)
Saya Belum Mencobanya

Lihat Hasil Poling
04 Januari 2013

oleh: Nadya

Sehat dan sakit adalah dua kata yang saling berhubungan erat dan merupakan bahasa kita sehari-hari. Dalam sejarah kehidupan manusia istilah sehat dan sakit ... Selengkapnya



17 Desember 2012
Oleh : Mashuri Masri DNA yang dalam bahasa sains dikenal dengan nama deoksiribo nukleic acid, karena struktur dan sifat yang melekat pada struktur tersebut. Sebagian dari kita ... Selengkapnya

Artikel Sebelumnya

oleh: Hamdan eSA (IKA UIN Alauddin)
05 Mei 2014

Memasuki masa kampanye menjelang pemilihan umum legislatif 9 april 2014 lalu, dunia ... Selengkapnya



oleh: Nurul Wardani Yahya, S.Hi. (Wisudawan terbaik pertama UIN Alauddin Makassar Wisuda Ke-67)
15 Januari 2014

Hari ini saya ke kampus----setelah sekian lama ‘bertelur’ di rumah----untuk ... Selengkapnya



kirimkan Opini anda
ke [opini(at)uin-alauddin.ac.id]
  1. STATISTIK
PENGUNJUNG ONLINE


TOTAL PENGUNJUNG
5413215 pengunjung